
Lembaga Semi Otonom (LSO) Peer Counseling OASIS merupakan organisasi di bawah naungan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (DEMA-F) Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Organisasi ini berfokus pada penyediaan layanan konseling sebaya yang menjadi wadah aman bagi mahasiswa dan masyarakat luas untuk berkonsultasi mengenai kesehatan mental mereka.
Saya mendedikasikan waktu selama lebih dari dua tahun di organisasi ini, berproses dari seorang anggota yang fokus mempelajari dasar-dasar empati hingga akhirnya dipercaya memandu jalannya lembaga sebagai ketua.
Membangun Fondasi Empati: Menjadi Konselor Sebaya
Perjalanan saya dimulai pada periode April 2019 hingga Maret 2020 sebagai anggota biasa. Pada fase ini, saya mengikuti pelatihan intensif untuk menjadi konselor sebaya yang baik. Setelah memiliki pembekalan tersebut, saya diberikan kesempatan untuk bisa terjun langsung guna memberikan layanan konseling dan program psikoedukasi ke berbagai elemen masyarakat, mulai dari lingkungan sekolah, area kampus, ruang publik, hingga pemanfaatan platform digital.
Selain berinteraksi langsung dengan klien, saya juga bertanggung jawab dalam menyusun dan mendokumentasikan laporan konseling secara komprehensif, yang melatih ketelitian saya dalam merekam dinamika psikologis individu.
Memimpin di Tengah Pandemi: Peran sebagai Ketua
Berbekal pengalaman lapangan tersebut, pada periode Maret 2020 hingga Juni 2021, saya dipercaya memegang tongkat estafet kepemimpinan sebagai Ketua LSO Peer Counseling OASIS. Peran ini menuntut tanggung jawab manajerial yang jauh lebih besar, di mana saya memimpin tim yang terdiri dari 33 anggota biasa dan 43 pengurus.
Masa kepemimpinan saya bertepatan dengan krisis global pandemi COVID-19, yang membawa tantangan operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam situasi tak menentu tersebut, saya berkolaborasi erat dengan DEMA-F dan Senat Mahasiswa Fakultas (SEMA-F) untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan dan layanan kesehatan mental tetap dapat diakses oleh mereka yang membutuhkan.
Sebagai bentuk respons adaptif terhadap situasi pandemi, saya bersama tim menginisiasi berbagai program inovatif, di antaranya membuka layanan konseling sebaya gratis secara daring, penyelenggaraan kampanye psikoedukasi, serta penguatan strategi branding organisasi untuk memperluas jangkauan kebermanfaatan OASIS di tengah masyarakat.
Kesimpulan
Bagi saya, OASIS bukan sekadar tempat berorganisasi, melainkan laboratorium nyata untuk mengasah soft skills yang krusial. Perjalanan dari seorang pendengar aktif di ruang konseling hingga menjadi pengambil keputusan di kursi kepemimpinan sukses menajamkan kemampuan empati, komunikasi interpersonal, problem solving, dan kemampuan leadership saya. Seluruh keterampilan inilah yang kini menjadi fondasi tak tergantikan dalam karir profesional saya di bidang HR dan pengembangan sumber daya manusia.